Neuro Day 37 : a visit


.

ujian wawancara psikiatri


sulit? kesalahan saya adalah gak nyuruh pasien untuk balik lagi kalo masih ada keluhan.

tapi seriously, saya berpikir itu bukan hak saya untuk nyuruh dia balik lagi. Bukannya costumer is the king? kalo dia merasa kurang puas, maka dia akan cari dokter / bantuan yang lain. Kalo dia merasa butuh dengan saya, maka dia akan balik lagi. Kalo dia merasa saran saya sudah cukup membantu, maka dia gak akan perlu balik lagi. Everyone's fine, everyone's happy. Jadi kenapa itu dibilang sebagai suatu kesalahan? Dan nada bicaranya itu sangat menuduh, aku ngerasa air mataku hampir keluar (saya punya tendensi bodoh dimana seluruh emosi saya terkait dengan lakrimasi). Jadinya, waktu selesai ujian dan dokter pembimbing keluar, dengan entengnya dia bertanya, 'knapa nangis tadi di dalem?'


I really hate her. Psikiater bukan sih? kok gak ngerti perasaan orang. Empatinya juga gak ada. Bener-bener payah. FYI, saya gak nangis, cuma mata agak berair. Nangis itu kalo airmata udah ngalir kan?


payah.


untuk pertama kalinya, saya ngunjungin orang sakit di RS Haji (sebelum2nya di Carolus, sebelumnya lagi di RS Thamrin). Total baru 3 kali ngunjungin orang sakit. Temen les dulu (karena sekarang saya dah gak les lagi :D) datengnya bareng anak2 drama club. Haha, we're too long being together for our own good (or so i think). Ceritanya anak itu habis operasi usus buntu. Cepet juga lho rawat inapnya, karena besoknya dia udah boleh pulang. Atau mungkin kunjungan kami yang mempercepat sembuhnya XD



anyway, I think he lost his control. How come he dared to touch my head (and stroke my hair) when I am 2 years older than him? My head sure has a weird magnet in it X(



I really enjoyed their company. Maybe I was the one who need their visit. Seriously, we are together too long for our own good.